Read more »
Memahami Diri dalam Cinta-Nya: Satu Jalan Mengenal-Nya
Ada perjalanan yang tidak memerlukan kaki, tidak juga
kendaraan. Perjalanan itu tidak terlihat, tapi sangat menentukan arah hidup:
itulah perjalanan ke dalam diri sendiri.
Seringkali kita sibuk mengurus hal-hal di luar diri,
mencari pengakuan, mengejar pencapaian, berharap kepada manusia, dan takut
kehilangan dunia. Tapi jarang kita menyempatkan diri untuk duduk diam, menoleh
ke dalam, dan benar-benar bertanya: Siapa aku sebenarnya? Apa yang
sedang aku cari? Mengapa aku merasa kosong meski terlihat penuh?
Dalam ajaran tasawuf, manusia diajak untuk menyadari
bahwa kehidupan ini bukan sekadar tentang dunia yang tampak. Di balik tubuh dan
pikiran, ada ruh yang membawa cahaya Ilahi. Namun cahaya itu tak akan bersinar
selama diri kita dipenuhi kabut kesombongan, kecemasan, dan hasrat yang tak
pernah cukup.
Memahami diri sendiri bukan berarti mencari semua
jawaban dalam sekejap. Tapi itu adalah proses mengenali lapisan demi lapisan
batin; mengerti apa yang kita rasakan, menerima apa yang kita alami, dan
memaafkan apa yang pernah kita sesali. Ini bukan pekerjaan mudah. Tapi justru
di sanalah letak keindahannya.
Diri yang bijak bukanlah diri yang tahu segalanya, tapi
diri yang mau belajar dalam diam. Ia tidak sibuk membandingkan, tapi lebih
memilih untuk bersyukur. Ia tidak takut mengakui kesalahan, karena tahu bahwa
kesalahan adalah guru yang tulus.
Ketika kita mulai jujur terhadap diri sendiri; mengakui
ketidaksempurnaan, memahami kelemahan, dan berhenti pura-pura kuat, maka saat
itulah hati mulai terbuka. Dan di sanalah cinta-Nya mulai terasa nyata. Cinta
yang tidak meminta balasan, tidak memaksa keadaan, tidak juga menuntut
sempurna. Cinta itu hadir sebagai kelembutan yang merangkul, sebagai ketenangan
di tengah badai.

Al-Hikam Karya Ibnu Athaillah as-Sakandari
Hidup tidak selalu indah. Tapi jika kita melihatnya
dengan hati yang bersih, segalanya menjadi pelajaran. Rasa sakit menjadi
pengingat. Rasa syukur menjadi penguat. Dan segala yang datang maupun pergi,
menjadi tanda bahwa Tuhan tak pernah jauh.
Memahami diri sendiri dengan bijak bukan akhir dari
perjalanan, tapi pintu menuju kesadaran. Sebab ketika kita mengenal diri dengan
jujur, kita sedang mendekati Dia yang menciptakan kita. Dan ketika cinta-Nya
telah tumbuh dalam dada, dunia tak lagi menakutkan, karena kita telah pulang ke
dalam kedamaian yang sejati.
Namun, dalam proses itu, kita perlu melewati berbagai
tahap. Ada saat ketika kita merasa jauh, bahkan seolah ditinggalkan. Doa tak
kunjung dijawab, usaha tak berbuah, dan hati terasa hampa. Di titik itulah,
kita diuji: apakah kita mencintai-Nya karena anugerah-Nya, ataukah karena
Diri-Nya?
Terkadang, Dia menjauhkan dunia agar kita kembali
mencari-Nya. Terkadang, Dia membiarkan kita jatuh agar kita belajar bersandar.
Dan seringkali, justru dalam kehampaan itulah kehadiran-Nya paling terasa—bukan
lewat keajaiban besar, tapi dalam bisikan kecil hati yang tetap bertahan.
Dalam sunyi, kita bisa mulai mendengar. Dalam
keheningan, kita mulai melihat. Bukan dengan mata, tapi dengan hati. Kita mulai
memahami bahwa kebahagiaan sejati bukanlah memiliki segalanya, tapi merasa
cukup dengan kehadiran-Nya.
Maka, memahami diri dalam cinta-Nya adalah tentang
membiarkan ego luruh, membiarkan topeng runtuh. Tidak lagi berusaha terlihat
sempurna, tapi ikhlas menjadi hamba yang apa adanya. Dari situ, lahir kekuatan
yang tidak mengandalkan dunia, tapi bersumber dari keimanan yang tumbuh dalam.
Seseorang yang mengenal dirinya tidak mudah
diombang-ambingkan oleh penilaian orang. Ia tahu bahwa nilainya tidak
ditentukan oleh pujian ataupun cacian. Ia berdiri bukan karena sokongan
manusia, tapi karena cinta Tuhan yang menopangnya dari dalam.
Semakin dalam kita mengenal diri, semakin kita sadar
bahwa segala kegelisahan kita bersumber dari keterikatan. Terlalu berharap
kepada yang fana, terlalu takut kehilangan yang sementara. Padahal yang abadi
sedang memanggil, menanti kita untuk kembali.
Dan kembali bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi
menghadirkan Tuhan di setiap sisi dunia. Dalam pekerjaan, dalam keluarga, dalam
lelah dan tawa. Ia tak terpisah, hanya seringkali kita lupa menyertakan-Nya.
Cinta-Nya bukan sekadar konsep indah. Ia bisa dirasa,
bisa hidup di dalam dada. Saat kita memaafkan, saat kita berbagi tanpa pamrih,
saat kita menundukkan diri dan berkata, "Aku butuh Engkau," di
situlah cinta-Nya membungkus hati kita dengan damai.
Perjalanan ini tidak instan. Kadang kita akan tersesat.
Kadang kita merasa lelah. Tapi itu semua bagian dari proses kembali. Yang
penting bukan seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa tulus langkah kita
menuju-Nya.
Setiap jiwa punya jalannya masing-masing. Tak perlu
membandingkan, tak perlu merasa paling benar. Yang perlu hanyalah keikhlasan
untuk terus berjalan, meski perlahan. Karena selama arah kita benar, kita tidak
akan pernah benar-benar hilang.
Dan pada akhirnya, ketika kita benar-benar menyatu
dalam cinta-Nya, kita menyadari bahwa segala hal yang dulu kita kejar, semua
ambisi yang melelahkan, hanyalah jalan untuk menemukan keutuhan diri yang
selama ini tersembunyi.
Maka, memahami diri dalam cinta-Nya bukan sekadar
latihan spiritual. Ia adalah bentuk paling hakiki dari keberadaan kita sebagai
manusia. Kita diciptakan bukan untuk tersesat dalam dunia, tetapi untuk
menemukan kembali cahaya yang sudah Ia titipkan sejak awal.
Dan ketika cahaya itu mulai bersinar, bukan hanya hidup
kita yang berubah, tapi dunia di sekitar pun ikut merasakan terang dari dalam.




0 Reviews